Selasa, 20 Maret 2012

Sejumlah Teori dan Metoda Prediksi Hebat yang tidak berdasarkan Ilmu Ekonomi

Teori Reflecsity George Soros, Teori Econophysics A. Tannous dan E. Fessant, Teori Semut & Kupu-kupu Paul Omerod serta Teori Bio-Economics kami (Edmond).
Oleh : Edmond F. La’lang (pemerhati ekonomi dan lingkungan hidup)

           Teori Refleksitas dari Georges Soros mengatakan bahwa pertumbuhan akan me- ngalami peningkatan secara linier yang sering di"bubble" atau dihargai melebihi nilai wajarnya demi mencapai pertumbuhan dan keuntungan yang berlebih dengan memakai  segala daya upaya, strategi dan dana yang akhirnya mencapai puncaknya pada ketinggian harga tertentu. Pada pertumbuhan linier (bullish) ini akan tercapailah “tahap prosperity” yang sering membuat manusia makin bergairah, serakah dan percaya diri untuk terus bertumbuh, meski disadari atau tidak akan menimbulkan efek ketagihan mirip narkoba yang selalu mencoba naik melebihi tingkat kemampuan diri sendiri dan lingkungannya (self and environment carrying capacity) menurut teori Bio-Economic yang bersifat overdosis yang meracuni atau overbought.  Sudut lereng kenaikan harga menjadi sangat terjal yang dicapai hanya dalam waktu singkat (high return high risk) yang menyebabkan kondisi tubuh atau mesin bursa dan ekonomi akan cepat memanas (overheating).

            Menurut metode Econophysical Tannous dan Fessant adalah mirip rangkaian listrik yang terus memberikan power untuk bergerak dan bekerja, serta menurut teori Butterfly Economic Paul Omerod adalah aktivitas kupu-kupu mencari madu bunga tumbuhan (mirip buga kredit yang terasa manis madunya atau gerombolan semut yang berkeja dan berjalan beriringan sibuk mencari makan dan gula tanpa kenal lelah. Setelah mencapai puncaknya, akan terjadilah proses “self reinforcing (penguatan diri)” dari Reflecsity( Georges Soros), kelebihan beban rangkaian listrik teori econophysical (Tannous dan Fessant), penumpuk-an gerombolan semut pada satu area sempit (bottleneck) teori Butterfly Economic (Paul Omerod), peak carrying capacity teori Bio-Economi Natural  yang dapat menghabiskan sebagian besar dana, waktu, peluang dan korban harta demi untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi, tetapi ternyata tidak dapat tercapai, meski telah dilakukan berulang kali.

           Proses ini adalah mirip konsolidasi manajemen dan sideways ekonomi, tetapi umumnya para pelaku bisnis dan ekonom kurang tahu, bahkan tidak menyadari kondisi kritis ini dengan terus berekspansi bisnis, membeli saham pada harga tinggi, mengambil kredit berisiko tinggi, - karena berasumsi bahwa kondisi pertumbuhan ekonomi, pangsa pasar dan bursa saham masih tetap menjanjikan pertumbuhan yang prospektif. Jika telah kehabisan dana, daya dan peluang untuk naik, mulailah terjadi proses nervous, frustrasi, kebingungan pada kondisi crowded (bergerombol) yang menimbulkan kemacetan, udara panas ruangan dan banyak rumors yang membingungkan. Dan pada akhirnya terjadilah catastroph (Georges Soros), tanah longsor, snowballing, kelelahan and kejutan, maximum sustainable growth (Bio-Economic), gempa bumi (Tannous dan Fessant), dan berhamburannya semut oleh gangguan tangan dari luar, dimana harga saham maupun pertumbuhan ekonomi menjadi tumbang dengan proses penurunan yang drastis atau terjadi gerakan free fall oleh gaya gravitasi untuk me- nurunkan semua massa dan asset dari ketinggian puncaknya hingga ke level bawah (base) ke tempat dimana level dia mulai naik.

             Disinilah terjadi proses hukum The Law of Demi- nishing Return (hukum kenaikan yang makin berkurang), dimana jika kita naik mirip sebuah lintasan peluru (ilmu mekanika) pada sudut terjal (lebih dari 70 derajat atau lebih dari lereng 45 %), katakanlah dalam waktu tempuh 1 jam pada ketinggian (Y) 1.000 m maka kita akan jatuh cepat oleh gaya gravitasi pada jarak pendek 200 m (X) dari mana kita mulai naik (titik 0). Dengan demikian segala daya upayadan kinerja manusia dalam kurun waktu tertentu akan terkoreksi secara alami pada tempat disekitar ketinggian dan lokasi dimana dia mulai melakukan pendakian, usaha dan kegiatan yang telah menghabis- kan banyak dana, usaha dan waktu yang berarti kembali pada titik Break Even Point saja. Yang mengalami kerugian adalah investor dan perusahaan yang tidak waspada, tidak hati-hati (prudential), tidak professional dan tidak efesien dalam melakukan pengelolaan dana, usaha dan kinerja tanpa mau tahu kondisi siklus bisnis manusia yang bukan saja ha- nya digerakkan oleh tangan-tangan manusia saja, tetapi juga dikendalikan oleh “Invisible Hand” dari kekuatan natural dan supernatural. Secara jangka menengah dan panjang dalam ruang dan waktu, pengaruh kekuatan natural dan supernatural akan sangat dominan dalam mempengaruhi dinamika kehidupan manusia di semua aspek kehidupannya, termasuk ekonomi.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda