Rabu, 21 Maret 2012

Ilmu Ekonomi telah Mati ? Jawabannya adalah Bio-Ekonomika Natural atau Dinamika Biosiklus Ekonobisnis sebagai sebuah Alternatif

Oleh : Edmond F. La’lang (pemerhati ekonomi dan lingkungan hidup)

        Ada sejumlah keluhan pada beberapa waktu ini bahwa ilmu ekonomi sudah tidak  mampu lagi melakukan prediksi dan pemecahan berbagai masalah ekonomi yang kompleks dan rumit bahkan sejak 1930 pada saat terjadinya “Great Depression”  hingga krisis finansil yang melanda dunia pada 2007 yang hingga saat ini belum juga pulih sepenuhnya. Memang ilmu ekonomi masih mampu melakukan prediksi pada saat kegiatan ekonomi masih sederhana, tertutup dan masih bersifat regional dengan sistim perdagangan yang bilateral.  Dengan adanya globalisasi, khususnya di sektor finansil pada pasar uang, saham, derivatif, komoditi, obligasi dan surat berharga lainnya.
Menurut kami, ada sejumlah pertanyaan besar terhadap ilmu ekonomi yang belum mampu dijawab dengan tuntas, benar dan tepat yaitu :

1. Ilmu ekonomi belum mampu melakukan prediksi bulanan, kwartalan dan tahunan     terhadap banyak indicator makro ekonomi secara tepat dan selalu harus direvisi.
2. Tidak mampu memprediksi banyak faktor risiko internal dan eksternal, termasuk    dalam cara mengelola risiko, mencegah dan menghindari risiko sistemiknya.
3. Mengapa ilmu ekonomi hanya memanfaatkan ilmu matematik dan statistik dalam    melakukan berbagai prediksi indikator makro ekonomi yang justru tak mampu     mengikuti dinamika ekonomi bisnis, termasuk kecepatan perubahan teknologi.    Serta juga membangun berbagai struktur keuangan yang sangat rapuh, baik dari    segi arsitekturnya maupun pondasi bangunan berbagai tingkatannya yang hanya    memanipulasi dan menderivatkan perhitungan matematik untuk membentuk suatu    bangunan derivate keuangan yang sangat besar, masif dan meluas.
4. Ilmu ekonomi belum mampu menutupi berbagai kesenjangan sosial, pengentasan    kemiskinan, melakukan distribusi pendapatan secara baik serta analisis ekonomi    lingkungan secara tepat untuk mencegah kerusakan lingkungan dan sosial akibat    berbagai kegiatan pembangunan ekonomi secara terpadu, efektif dan efisien.
5. Dalam perhitungan waktu, ilmu mathematik hanya memakai berbagai derivatnya    untuk meramalkan alunan dinamika ekonomi bisnis manusia, tanpa memasukkan    aspek budaya, sosial dan psikologis manusia yang selalu ingin maju dan berubah.

            Menurut Prof. Paul Ormerod bahwa ilmu ekonomi telah mati (The Death of Economic) dan beliau memberikan suatu solusi untuk memakai metoda The Butterfly Economics dalam bentuk cara semut dalam berkelompok dan berorganisasi, termasuk menentukan target gula yang dapat diartikan sebagai peluang bisnis dan keuntungan ekonomi dalam bentuk kerjasama yang harmonis. Hal inilah yang telah digagas oleh Adam Smith sebgai Bapak Ilmu Ekonomi bahwa ekonomi adalah suatu ilmu untuk mensejahterakan masyarakat dengan selalu menjaga lingkungan hidup dan alam semesta (astronomis) ini agar selalu harmonis dan sinergis yang berguna bagi generasi sekarang maupun generasi mendatang. Tetapi para ekonom pengikut Adam Smith tidak dapat menterjemahkan rumusan ini ke dalam rumus, metoda, analisa dan keputusan ekonomi yang baik. Inti dari pesan mulia ini adalah kita semestinya memperlakukan manusia, hubungan manusia dengan manusia lain dalam kegiatan ekonomi dan pengambilan keputusan ekonomi haruslah dalam konteks yang harmonis terhadap lingkungan sosial, lingkungan hidup dan lingkungan alam semesta dalam visi, kegiatan dan konsep yang lebih kompleks (non-linier), manusiawi dan ramah lingkungan dan bukannya bersifat maksimalisasi keuntungan serta eksploitasi berbagai sumber daya alam dan sumber daya manusia dalam aspek sosialnya. Itulah sebabnya ilmu ekonomi dan bisnis hanya menghasilkan berbagai masalah, seperti kesenjangan sosial, kerusakan lingkungan, gejolak ekonomi dan sosial-politik, kemiskinan, penyakit, perang dan kerusakan mental (egoisme, keserakahan, konsumerisme, dan kekayaan berlebih tanpa sebuah nurani).

Pentingnya Ilmu Biology pada Kegiatan Ekonomi di Masa Depan

Oleh : Edmond F. La’lang (pemerhati ekonomi dan lingkungan hidup)

          Kita semestinya berpikir, berkonsep, berstrategi, berorganisasi dan bertindak secara “biologis”.  Seperti yang marak saat ini yaitu manusia mulai “back to nature” sebagai wujud dari kembalinya manusia menjadi lebih akrab dan ramah lingkungan. Hal ini terlihat dalam bentuk pemanfaatan berbagai jenis makanan dan obat-obatan organic untuk kesehatan dan memperpanjang umur manusia. Hal ini telah dinyatakan oleh John Naissbitt (Global Paradox, 1988) yang menyatakan bahwa abad 21 adalah sebagai Abad Biologi, dan terbukti sejak 1995, dunia industri telah diramaikan dengan berbagai produk yang memakai kata biologi, yaitu bio-farma, bio-medis, bio-vision, bio-energy, bio-samsung dan bio-teknologi, termasuk preventif yaitu bio-security, bio-safety, bio- terrorism, biometric dan bio-bio lainnya.  Selanjutnya menurut Prof. Smith (MIT) bahwa pada tahun 2020 adalah sebagai awal abad biologi, dimana banyak muncul industry biofarma yang bersifat preventif serta hilangnya berbagai profesi mapan dan beberapa disiplin ilmu.  Untuk itulah ilmu ekonomi perlu berpikir dan menelurkan konsep dan rumusan yang akurat dan bersifat biologis yaitu berdimensi 2 – 3.  Dimulai dengan pemakaian model matematik quantum kompleks dan ilmu statistika dikembangkan menjadi ilmu dinamika (aero-dynamics dan water-turbulencies) untuk memecahkan berbagai problem ekonomi dan sosial dengan makin terbukanya kegiatan ekonomi, sosial dan politik dari sistim demokratisasi, globalisasi dan perdagangan bebas.

            Dengan adanya perkembangan teknologi industri, teknologi informasi-telekomunikasi dan manajemen bisnis yang makin kompleks, dinamis, penuh perubahan dan gejolak yang bersifat demokratis dan persaingan keras serta kadangkala dipenuhi dengan sifat serakah, egois, chaoistik dan intrik. Untuk itu setiap perusahaan kecil hingga besar perlu didukung oleh sistim komputerisasi yang berotak cerdas mengikuti “bio-artificial intelligent” dan “bio-hybrid”. Selanjutnya digabungkan dengan perkembangan ilmu nannoteknologi dan genetic-technology untuk mempersiapkan sebuah perhitungan yang lebih super kompleks dan cepat dengan tingkat memori sangat tinggi agar dapat memprediksi dan memecahkan, bahkan dapat mencegah timbulnya berbagai masalah ekonomi, pangan, sosial, iklim dan lingkungan hidup dalam selang waktu 25 – 100 tahun mendatang.

           Ekonomi sebagai sebuah sistim hasil karya manusia untuk menghasilkan berbagai hasil produksi barang dan jasa juga akan mengalami sebuah siklus biologis, karena pelakunya adalah juga manusia yang bersifat biologis, hidup, bertumbuh dan berkarya yang akan menghadapi berbagai tantangan hidup alamnya sejak lahir, masa kecil, ABG, dewasa muda, dewasa matang, menua dan manula. Setiap siklus alami ini akan berupa grafik konsolidasi bertumbuh, bertumbuh linier, bertumbuh yang melemah, melambat, konsolidasi, stagnasi, bertumbuh negative (tak bertumbuh), kondisi sakit yang menurun (resesi) dan akhirnya kondisi tubuh ekonomi jatuh ke dasarnya untuk bertahan hidup, konsolidasi, siapkan dan restrukturisasi diri dan sistim untuk bangkit kembali dan akhirnya pulih (recovery). Demikianlah siklus hidup manusia, hasil karya usaha bisnis, konsumsi masyarakat atas hasil kinerja bisnis yang secara agregat (akumulatif) akan menghasilkan kondisi ekonomi makronya yang sangat tergantung dari sejumlah besar sel-sel tubuh ekonomisnya apakah baik, kuat, berkualitas, tangguh. Kreatif, innovative, efisien, produktif atau sebaliknya.

         Tentunya diperlukan suatu kepakaran dan ketrampilan yang didukung oleh manusia yang berpikiran terbuka (open-minded) dan visioner serta mental spiritual, emosi positif dan tingkat intelektual yang modern dan berjiwa sosial dan demokratis. Sebenarnya sejak era 1980an, para mahasiswa ekonomi dan bisnis di USA telah disarankan untuk belajar ilmu biologi untuk diterapkan di bidang ekonomi dan bisnis tetapi ditolak. Dan akhirnya justru mengembangkan berbagai simulasi teori ilmu matematis (membentuk devisi baru ilmu ekonomi matematika yaitu “ekonometrika” yang penuh kerumitan serta memanfaatkan ” acrobat financial engineering” yang justru menyesatkan mereka dan akhirnya tak mampu mengelak akan datangnya krisis finansil 2007 yang dibuat mereka sendiri.  Layaknya ekonom finansil mendirikan bangunan raksasa dan tinggi pada tanah yang rapuh subprime mortgages golongan miskin atau terbelit sendiri di sebuah sarang laba-laba global dengan berbagai jaringan dan tingkatan derivatif lalu dilindungi oleh swap dan hedging yang justru berisiko tinggi,  dalam arti mereka tak mampu menelurkan teori ekonomi modern yang sesuai dengan perdagangan dan globalisasi yang sangat terbuka, cepat dan penuh dinamika dan akhirnya semua prestasi mereka selama puluhan tahun harus habis dan hancur dihantam tsunami finansil pada 2007 – 2008 dengan akibat kebangkrutan perbankan. korporasi dan resesi ekonomi mirip Great Depression 1930an. Ironi dari sebuah pendakian pertumbuhan ekonomi yang sia-sia yang sering menimbulkan efek “bubble dan over-heating economy”  dan akhirnya hanyalah menghabiskan waktu, tenaga, SDA dan uang selama puluhan tahun untuk kembali ke dasarnya yaitu pada kondisi ekonomi 1930an dengan berbagai kebangkrutan, bailout dan stimulus artifisial  yang sangat sulit menurunkan tingkat pengangguran, kemiskinan dan recovery ekonomi serta ancaman deflasi yang parah dan lama layaknya memasuki era musim dingin yang penuh badai salju dan membekukan sektor ekonomi - bisnis.
          
            Dengan hal seperti inilah, kita dapat lebih gesit, siap dan antisipatif untuk mengetahui tentang adanya bio-ritmik dan biosiklus secara lebih awal untuk mencegah berbagai risiko dan masalah bisnis mikro terhadap berbagai fluktuasi alunan kegiatan ekonomi-bisnis dan kaitannya dengan lingkungan hidup agar dapat lestari tanpa menimbulkan berbagai dampak krisis, resesi, bencana alam dan penyakit. Dan para pebisnis tak harus selalu mengalami kebingungan, panic, khawatir dengan berbagai risiko akibat adanya gejolak, krisis, resesi dan masalah bisnis lainnya untuk diantisipasi sebagai sebuah sistim pencegahan. Paling tidak dapat meminimalisir berbagai risiko yang akan timbul dan dapat menimbulakn berbagai risiko sistemik eksternal dan internal untuk terus survive, sedang perusahaan lainnya dapat rugi besar, ambruk dan bangkrut.  Dengan kondisi mikro ekonomi yang baik, kuat, kreatif, innovatif, efisien, efektif, bernilai tambah tinggi,  tangguh dan daya saing yang kuat, maka akan menghasilkan pula kondisi ekonomi makro yang sama pula dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang sehat, kuat, andal dan sejahtera bagi seluruh masyrakatnya dari golongan atas hingga ke bawah.

Selasa, 20 Maret 2012

Biosiklus dan Bioritmik Ekonomi (Ekonomi Makro)



Oleh : Edmond F. La’lang (pemerhati ekonomi dan lingkungan hidup)

           Kegiatan ekonomi adalah merupakan segala aktifitas dari sebuah komunitas ekonomi pada sebuah kabupaten, propinsi dan Negara yang dapat memberikan berbagai manfaat ekonomis berupa keuntungan, produksi dan saluran tata niaga untuk penyediaan barang dan jasa (termasuk finansil) bagi kebutuhan konsumsi dan pelayanan masyarakat yang ada di wilayah dan negaranya. Kegiatan ekonomi ini akan memberikan suatu dinamika pertumbuhan bagi kemajuan ekonomi dan kesejahteraan bagi pelaku ekonomi (keuntungan), para karyawan dan buruh (gaji dan upah), serta bagi stakeholder yaitu negara (pajak) dan masyarakatnya (multiflier effect).  Kegiatan ekonomi akan memberikan suatu aspek pertumbuhan dengan suatu dinamika yaitu naik turunnya kondisi ekonomi dalam kegiatan produksi barang dan jasa, keluar masuknya arus investasi riil dan finansil, sektor moneter dan fiskal pemerintah dalam menjalankan kegiatan pemerintahan sesuai anggaran APBN, aktivitas ekspor impor dan berbagai kegiatan ekonomi lainnya.

          Pertumbuhan ekonomi dalam bentuk dinamika ekonomi merupakan suatu Bioritmik Ekonomi suatu daerah, propinsi dan Negara yang berbentuk alunan dan fluktuasi ekonomi yang sering diberikan dalam bentuk berbagai “Indikator Ekonomi Makro” yaitu tingkat pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, tingkat SBI dan bunga kredit, nilai Rupiah, cadangan devisa, surplus-defisit perdagangan dalam Neraca Pembayaran Internasional dan anggaran pemerintah (Current Account), Jumlah Uang Beredar (Money Based Indicator), harga BBM dan komoditas sembako serta bahan baku konsumsi dan industri, dan lain-lain. Tetapi yang juga penting adalah Debt Service Ratio suatu negara dalam mengelola utang-utangnya agar dapat memberikan suatu leverage yang rational bagi kemajuan ekonomi sekaligus dapat membayar kembali cicilan utangnya (kasus Eropa 2009-2010 seperti Yunani, Spanyol dan Portugal).  Anehnya sebagian besar negara maupun perusahaan besar dunia akan selalu melindungi semua utangnya dengan cara hedging atau Credit Default Swap mirip reasuransi, tetapi dengan risiko tinggi dan biaya yang cukup mahal yang sering dijajakan oleh Investment Banking Global.  Padahal risiko itu sendiri pada dasarnya tidak dapat “terproteksi” secara aman dengan berbagai swap dan hedging dari gejolak ekonomi karena adanya siklus ekonomi oleh kekuatan alamiah.
       
          Dengan indikator ekonomi, para ekonom berusaha melakukan prediksi ekonomi bulanan, triwulan, kwartalan dan tahunan dalam bentuk risalah “Economic Outlook” untuk memberikan gambaran prospek ekonomi bagi pemerintah dan pengusaha dalam menentukan berbagai perencanaan strategis dalam kebijakan ekonomi pemerintah dan kebijakan bisnis perusahaan terhadap berbagai data ekonomi makro yang telah diprediksikan. Tetapi masalah utamanya adalah seringkali ekonom pemerintah dan pengamat ekonomi tidak dapat memberikan suatu prediksi yang tepat dengan berbagai perhitungan ekonometrika dalam bidang moneter dan fiskal, sehingga setiap triwulan hingga tahunan dengan berat hati harus merevisi berbagai prediksi ekonominya untuk disesuaikan (adjustment) dengan kondisi riil makro ekonominya.  Hal ini disebabkan oleh pemakaian berbagai rumus ekonometrika yang bersifat linier dan berdimensi 1 untuk memprediksi kegiatan ekonomi manusia yang berdimensi lebih kompleks (dimensi 1 – 3) serta dibantu ilmu statistika (statis/unmovable) untuk meramal berbagai dinamika (movable) dari berbagai matriks dan kombinasi kondisi fisik, mental, ekspektasi, prestasi, spirit,selera dan faktor psikologis lainnya dari sejumlah ratusan juta bahkan milyaran mahluk manusia konsumen dan produsen dalam sebuah negara dan dunia.  

           Ilmu ekonomi hanya mengerti tentang bagaimana mendapatkan keuntungan dan bertumbuh naik setiap waktu sebagai prospek dan peluang ekonomi, sedangkan jika menurun adalah kerugian, ketidakpastian bahkan risiko yang perlu dan harus dihindari. Padahal naik turunnya kondisi dan pertumbuhan ekonomi adalah wujud alami dari kegiatan mahluk manusia seperti siang-malam, bangun-tidur, sehat-sakit, senang-sedih, sukses-gagal, termasuk untung-rugi.  Hal inilah yang membuat manusia ekonomi sering tidak memahami adanya pengaruh supernatural dan natural terhadap berbagai aktivitas ekonomi. Untuk itulah perlunya para ekonom dan pebisnis dapat lebih mengetahui alunan dan fluktuasi bioritmik (telah banyak dipakai oleh ilmu olahraga, kedokteran, psikologi) untuk menghindari siklus ekonomi yang menurun dengan cara antispasi bahkan preventif agar terhindar dari risiko kerugian, kegagalan  dan  kebangkrutan.  Metoda  bio ekonomi natural  adalah  bersifat  preventif (pencegahan) dengan early warning system agar ekonomi dan bisnis dapat terhindar dari risiko kerugian, risiko pasar, risiko bunga kredit, risiko inflasi,  risiko gejolak nilai mata uang, risiko kenaikan harga BBM, harga bahan baku dan bahan penolong,  risiko gagal bayar, risiko persaingan, risiko perubahan selera dan kebutuhan konsumen dan berbagai risiko lainnya yang dapat membuat perusahaan berada dalam risiko kerugian, risiko tuntutan hak-hak buruh dan risiko kebangkrutan.

Biosiklus dan Bioritmik dalam Bisnis (Ekonomi Mikro)


Oleh : Edmond F. La’lang (pemerhati ekonomi dan lingkungan hidup)

          Bioritmik bisnis (ekonomi mikro) sebenarya adalah pembentuk makro ekonomi dari suatu negara layaknya milyaran sel-sel kecil yang membentuk sebuah tubuh manusia. Seringkali kita lebih mementingkan kondisi makro ekonomi, tanpa perlu memperkuat ekonomi mikro, padahal pandangan dan kebijakan ini sangat keliru, karena dari sel-sel mikro yang kuat dan sehat maka akan membentuk sebuah tubuh yang kuat dan sehat. Dengan demikian jika pertumbuhan sebagian besar sel-sel mikro mengalami suatu kendala, banyak hambatan, penyakit dan virus, maka juga akan mempengaruhi secara nyata vitalitas dan kondisi makro ekonominya. Ekonomi mikro terdiri dari berbagai kegiatan bisnis, seperti industri (besar, menengah, kecil) dan jasa-jasa perdagangan riil dan finansil (besar, menengah, kecil), hingga toko- toko ritel tradisional dan modern serta PKL. Sebuah industri akan terdiri dari entitas manufaktur yang didukung oleh berbagai perusahaan supplier bahan baku dan penolong, barang setengah jadi, barang komponen serta jaringan distribusi dan retail untuk memasarkan produk manufakturnya. Fluktuasi harga dari berbagai jenis komoditas bahan baku, penolong dan komponen ini akan menentukan tingkat harga cost of manufacturing serta cost of goods sold serta tingkat laba perusahaannya dan tingkat penetrasi ke pasar (pangsa pasar) yang akan menentukan pula tingkat fluktuasi keuntungan, peluang, pertumbuhan, persaingan dan risiko bisnisnya.  

         Seringkali ekonomi mikro diidentikkan dengan sektor riil yang bergerak lamban, bersifat fisik berupa bangunan luas dari pabrik, real estate, bangunan properti dan lahan pertanian (dalam arti luas) dengan hasil produk yang “tangible”. Sedangkan ekonomi makro diidentikkan dengan sektor finansil / perbankan yang bergerak cepat  yang sering menyebabkan kondisi “bubble economy dan overheating”, oleh ekspansi kredit ke sektor riil dan jasa, spekulasi berlebihan di pasar uang, saham, derivatif dan komoditas serta bersifat maya (virtual) dengan hasil produk jasa yang “intangible”. Pergerakan yang cepat dan raksasa di sektor finansil ternyata memang dapat membuat kondisi pasar finansil menanjak tinggi dengan raly-raly, dan akhirnya bergejolak (turbulences) untuk catastroph dan crash landing yang menimbulkan kepanikan bagaikan sebuah efek tsunami, gempa dan snow balling. Pelaku finansil bagaikan sebuah gerakan burung dan udara yang dapat bergerak cepat antar negara dan benua dalam kecepatan tinggi yang didukung oleh kecanggihan sistim komputerisasi dari teknologi informasi dan telekomunikasi yang mengglobal. Gerakan cepat dan raksasa inilah yang dapat menimbulkan efek badai (angin) atau tsunami (air) yang dapat merusak dan fatal. Sedang gerakan sektor riil, tentu akan sulit untuk segera memindahkan berbagai asset bangunan, mesin, manusia dan produknya dalam waktu singkat.
        
      Jadi terdapat berbagai faktor kompleksitas yang saling mempengaruhi (interinfluence) dan ketergantungan (interdependent) antara ekonomi makro dan ekonomi mikro yang harus disikapi secara bijak, tepat, prudent dan visioner.  Untuk itu para ekonom dan pebisnis seharusnya menyadari kondisi kompleks ini dengan memakai teori ilmu ekonomi dan bisnis yang kompleks dan berdimensi tinggi (2 – 4) agar dapat lebih mengetahui berbagai alunan kondisi ekonomi makro, mikro dan elemen pendukungnya berupa fluktuasi harga komoditas dan perubahan iklim. Kondisi yang dihadapi dunia saat ini layaknya saat krisis masuk ke musim gugur (daun-daun korporasi berguguran/bangkrut) dan sekarang memasuki musim dingin (winter). Apakah dengan berbagai kebijakan ekonomi dan moneter dengan suku bunga rendah, quantitative money easing, bailout dan stimulus dapat bekerja baik untuk pemulihan dan sehat kembali dengan memasuki musim semi (bunga-bunga bersemi dan tumbuh kembali) atau sessat saja dan segera masuk ke musim panas untuk menghadapi musim gugur dan musim dingin berikutnya yang berkepanjangan seperti yang telah dialami oleh Jepang sejak 1990 hingga saat ini. 
        
        Memang dengan paket suku bunga rendah dan quantitative easing oleh Bank Sentral serta bailout dan stimulus oleh kebijakan fiskal keuangan cukup membuat efek agak hangat dan dapat membantu sektor perbankan dan finansil lainnya, tetapi tidak untuk sektor riil (hanya pemain besar saja) yang justru dapat memberikan sebuah perbaikan sistim, pertumbuhan sehat dan leveraging alamiah terutama bagi sektor manufaktur, properti, infrastruktur dan jasa lainnya. Pertanyaan adalah apakah hal ini dapat berlanjut menjadi sebuah pemulihan yang kuat, sehat dan jangka panjang, terutama mengurangi tingkat pengangguran (unemplyoment rate) dan commodity inflation by speculations atau hanyalah bangun sesaat untuk jatuh kembali lebih ke bawah, seperti yang telah diprediksikan oleh pakar ekonomi USA, Prof. Nouriel Roubini bahwa ekonomi  Amerika akan mengalami  suatu  kondisi  “double dip recession”  oleh kebijakan ekonomi yang kurang tepat serta beban hutang yang makin menggunung yang dapat berakibat “default” (gagal bayar), risiko inflasi, risiko sistemik gagal bayar (default) negara-negara Eropa, seperti Yunani,  Portugal dan  Spanyol   serta risiko gejolak spekulatif di bursa komoditas minyak dan komoditas lainnya yang akhirnya harus direstrukturisasi dengan biaya makin mahal serta sektor manufaktur Amerika yang makin kalah di pasar domestik dan global dari produk-produk China dan negara-negara lainnya. Dan secara bio-ritmik memang seharusnya terjadi secara perlahan dan gradual untuk sebuah resesi yang berkepanjangan jika dapat dikelola secara benar, prudent dan professional untuk meredam resesi berat pada masa yang akan datang dengan cara preventif yang bersifat  “Zero Problem  and Zero Cost” agar pertumbuhan ekonomi memberikan Value Added yang tinggi.

Peluang dan Risiko dalam Bisnis


Oleh : Edmond F. La’lang (pemerhati ekonomi dan lingkungan hidup)

           Di dalam istilah pasar finansil terdapat sifat manusia dalam menghadapi risiko yang akan timbul dalam setiap aktifitas kehidupannya yaitu Risk Averse, orang yang selalu menghindari risiko dan Risk Taker, orang yang senang menghadapi risiko dan orang yang berhati-hati dalam menghadapi risiko. Di dalam dunia bisnis, setiap upaya mempunyai risiko (ancaman) dan peluang untuk berkembang dan maju yang tergantung kepada jumlah modal, jumlah kredit, mutu SDM, penguasaan teknologi produksi dan informasi, peluang dan pangsa pasar, strategi bisnis yang tepat, kondisi ekonomi dan regulasi negara tempat berbisnis, negara tujuan ekspor, tingkat persaingan, kemampuan CEO dan manajemen, penguasaan teknologi industri, teknologi informasi dan komunikasi dan banyak faktor lainnya, termasuk budaya, sosial dan lingkungan hidup (kondisi alam dan iklim).
         
           Faktor-faktor ini semestinya dimasukkan sebagai variable dari kreativitas dan semangat manusia yang akan selalu ingin maju melakukan terobosan, innovasi dan penciptaan produk baru, sehingga akan selalu terjadilah berbagai perubahan untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam sektor konsumsi dan pencapaian prestasi manusia. Hal inilah yang menimbulkan mitos bahwa satu-satunya yang pasti adalah perubahan dan ketidakpastian itu sendiri. Sebenarnya perubahan itu dikendalikan oleh needs and wants individu dari Piramida Maslow untuk mencapai suatu  aktualisasi diri yang optimal dari individu, perusahaan, kelompok masyarakat, Negara dan aliansi Negara seperti AFTA, NAFTA, APEC, CAFTA, Masyarakat Ekonomi Eropa dan banyak lagi aliansi sesuai kepentingannya masing-masing untuk menjadi suatu kemajuan yang akan mewujudkan suatu dinamika peradaban manusia. Berbagai kebutuhan ini akan diterjemahkan oleh produsen untuk memenuhi kebutuhan dan selera konsumennya.

            Dengan demikian, setiap bentuk bisnis akan selalu memperhitungkan semua potensi diri sesuai analisa SWOT dalam sebuah criteria organisasi dari Boston Consulting Group dalam dunia penuh tantangan dan persaingan sehat dan fair, baik dengan Comparative maupun Competitive Advantage (Porter, 1992). Oleh makin berkembangnya dunia ini, baik dari kemajuan ekonomi-bisnis, innovasi teknologi, informasi dan komunikasi serta kemajuan manusia dari segi pendidikan, status sosial dan kesejahteraan, maka akan selalu tercipta peluang dan tantangan bisnis lokal, nasional, regional dan global untuk dimanfaatkan dengan melihat kondisi SWOT dan TOWS (Kertajaya dan Kottler, 2001) dari setiap entitas bisnis. Dengan makin banyak dan ragam dari bisnis ini di dunia akan memberikan suatu aktifitas ekonomi dalam organisasi yang makin besar, kompleks dan jaringan global. Semua ini akan melibatkan berbagai sumberdaya finansil, SDM, SDA, rekayasa teknologi dan asset fisik buatan manusia yang membentuk sebuah dunia yang terus berubah dan berkembang pesat secara dinamis. Inilah yang dikatakan sebagai Bio-Cycle atau Circle of Life (Siklus atau Lingkaran Kehidupan) dari kebudayaan manusia sebagai mahluk biologis, berotak cerdas, bermental psikologis dan berdimensi sosial dalam segala bentuknya untuk mencapai jati diri manusia seperti yang digambarkan dalam Piramida Maslow dengan cara bekerja keras, berkreasi dan innovative.

           Dari berbagai bentuk pertumbuhan dinamis menuju kesejahteraan (prosperity), tentunya secara hukum alam akan selalu mengalami suatu kenaikan, gejolak, turbulensi, pasang surut, alunan dan fluktuasi layaknya pergantian siang dan malam serta naik turunnya kondisi medan datar hingga bergunung. Hal ini akan mengikuti hukum alam dalam bentuk rotasi bumi dan pergerakan elips bumi ke matahari yang membentuk musim kemarau dan hujan di daerah tropis dan musim semi (spring), musim panas (summer), musim gugur (fall) dan musim dingin (winter) di subtropis dan kutub. Dan adanya gaya gravitasi bumi, pertumbuhan biologis dan lingkungan hidup yang akan menghasilkan suatu rangkaian siklus hidup manusia di dalam ruangnya menurut perjalanan waktu yang akan bergantung kepada kemampuan dari manusia untuk beradaptasi dan berkonsolidasi untuk bertumbuh pesat (tubuh dan organisasinya).

            Bio-siklus ini berbentuk kebangkitan (improvement and recovery), konsolidasi, kenaikan linier dengan kerterjalan tertentu lalu makin melemah pada puncak (peak) pertumbuhan dan  akan mengalami suatu penguatan diri (self reinforcing) yang akan selalu mengikuti hukum kenaikan yang makin berkurang (The Law of Deminishing Return). Selanjutnya akan terjadi sebuah gejolak bahkan catastrophic (kejatuhan free fall) yang fatal jika naiknya terlalu tinggi dengan lereng terjal dan waktu yang cepat untuk menurun drasris dan akhirnya  kembali mengalami  resesi bahkan depresi.  Pada fase penurunan inilah yang sering dikatakan sebagai suatu risiko yang menimbulkan banyak kerugian, kegagalan, kebangkrutan dan berbagai korban materi lainnya.  Seringkali pada puncaknya (peak) manusia akan berupaya semaksimal mungkin untuk naik terus yang cenderung melawan hukum alam dengan melakukan berbagai cara, termasuk menghabiskan dan merusak sumber daya alam, akan tetapi hukum alam tetap unggul dan akan berakibat fatal berupa suatu kondisi kejatuhan (catastroph). 

           Jika manusia berusaha untuk tumbuh makin tinggi, maka makin besar juga hukum alam gravitasi akan membuatnya jatuh bebas (free fall) yang memakan banyak korban harta, asset dan jiwa dalam bentuk krisis ekonomi, bencana alam, penyakit, kemiskinan dan bencana sosial dan politik. Jadi manusia janganlah selalu berusaha melawan hukum alam dengan bertindak semena-mena terhadap alam, mengeruk habis sumberdaya alam non renewable dan renewable resources, keserakahan di bidang finansil dan perbankan serta penindasan dan exploitasi terhadap sesamanya manusia. Hal ini akan membentuk sebuah krisis besar, seperti yang dunia alami pada krisis ekonomi subprime mortgages di USA dengan akibat yang bersifat snowballing ke seluruh dunia dan berdampak sistemik di negara-negara maju yang membeli subprime mortgages beserta derivatifnya serta credit default swap dalam berbagai tingkatan. Dan akhirnya menimpa krisis hutang berbagai negara Eropa yang ternyata memang banyak berutang untuk sebuah “leveraging” yang salah kaprah dan tidak semestinya dilakukan agar terus bertumbuh dengan pesat.

Ketidakpastian dan Tantangan bagi Siklus Hidup Bisnis

Oleh : Edmond F. La’lang (pemerhati ekonomi dan lingkungan hidup)

           Kondisi siklus, termasuk di bidang ekonomi dan bisnis yang akan membentuk suatu ketidakpastian (uncertainty) dan tantangan (threat) akibat dari perubahan budaya manusia dalam interaksinya dengan alam dan sesamanya manusia untuk  bertumbuh  dan  maju  di bidang ekonomi-bisnis, politik, sosial, budaya, lingkungan hidup di berbagai negara. Dari sini manusia dengan segala kemampuannya melakukan  introspeksi berupa Learning by Doing dengan Learning Curvenya untuk melakukan perbaikan – perbaikan (improvement), padahal sebenarnya yang juga perlu dilakukan adalah Learning by Time dengan Time Curve (Timing and Momentum) dalam arti belajar dari sejarah, kekinian dan waktu yang akan datang (visi, intuisi, indera VI, prediksi). Hal inilah yang sering dikeluhkan pebisnis dan ekonom, khususnya bahwa ada ketidakpastian dari fluktuasi nilai mata uang maupun kondisi bisnis secara umum untuk menentukan strategi target pertumbuhan, persaingan, pangsa pasar, potensi laba dan rugi, pembiayaan, fluktuasi tingkat harga bahan baku dan penolongnya.       
     
           Sebenarnya jika ditinjau dari aspek biologis berdimensi ke 3, semua kondisi siklus akibat perubahan tersebut dapat diantisipasi dan diramalkan alunannya dengan tepat, layaknya kita melakukan surfing (berselancar di pantai) atau hiking (naik ke perbukitan) dengan baik dan bukannya naik roller coaster tanpa mampu berbuat sesuatu untuk menghindari kondisi gejolak (turbulencies). Itulah siklus alami sebagai hasil kinerja manusia yang dipengaruhi oleh hukum Tuhan (supernatural), hukum alam (biologis, biokimia dan biofisika) dan gaya gravitasi (fisika).  Sistim biologis dapat mengetahui dengan pergerakan ruang dan waktu secara akurat (memakai rumusan perhitungan berdimensi 2 – 3) dari kinerja siklus tersebut, kapan akan naik, kapan ada di puncak dan kapan harus turun kembali secara alamiah dan berirama (Bio-Ritmik).  Jadi kita tidak perlu melawan hukum alam itu sendri, tetapi sebaiknya kita nikmati saja warisan alam ini secara bijaksana sebagai karunia Tuhan Pencipta atau menurut kata Gde Prama, sebaiknya manusia bagaikan sebuah sungai yang mengalir dari hulu sampai ke hilir dan bermuara ke laut dengan damai tanpa harus menggerutu dan membandel. Jadi ketidakpastian (risiko) itu sendiri adalah karena manusia tidak mau melihat dunia dan alam ini secara lebih baik dan benar, karena sifat manusia yang ambisius, tak terkontrol dan keserakahan untuk terus naik menjadi lebih kaya, hebat dan popular, tetapi apalah daya kemampuan manusia hanya terbatas (bagai pungguk merindukan bulan, apa daya tangan tak sampai), maka hukum alam gravitasi akan mendorongnya kea rah bawah. Makin kuat self reinforcing, maka makin kuat dan keras daya jatuhnya.  Untuk  itulah manusia perlu mempelajari dan mengadopsi berbagai hukum alam dari sistim biologis, biokimia dan biofisika terhadap Carrying Capacity (Daya Tampung Alam), The Law of Deminishing Return, dan berbagai hukum alam lainnya, disamping hukum dan aturan main (regulasi) yang dibuat oleh manusia (negara dan organisasi) untuk dipatuhi oleh manusia sebagai pelaku ekonomi, bisnis, sosial dan politik.
            
            Carrying Capacity merupakan suatu kendala daya dukung dan daya tampung terhadap berbagai kegiatan alam (natural bio-cycle) dan manusia (ekonomi, bisnis, sosial dan politik) yang saling berinteraksi yang akhirnya akan menghasilkan kondisi kejenuhan (saturated) di lingkungan alam, termasuk di kegiatan ekonomi-bisnis. Carrying capacity akan selalu menimbulkan kondisi bottleneck dan crowded yang mendorong manusia untuk melakukan suatu penguatan diri (self reinforcing). Manusia hanya melihat dan melakukan visi dari sisi dirinya sendiri yang bersifat layaknya si pungguk, katak dalam tempurung, berpikir sempit dan egois, sehingga tak mampu dan mengerti akan kekuasaan alam semesta raya (supernatural) dan alam dunia (natural)  yang akan membentuk alunan, fluktuasi dan gejolak sebagai wujud dari bio-ritmik manusia. Bio-ritmik ini akan membentuk dan mempengaruhi kondisi fisiologis dan psikologis manusia dalam bertumbuh, berprestasi, bersaing, berinovasi. Kekuasaan dan kekuatan supernatural dan naturallah sebagai hirakhi dalam jajaran kekuasaan duniawi ini yang akan mengatur seluruh aspek kehidupan manusia di dunia, dimana kita hanyalah menjalanilah secara benar sesuai ajaran kebenaran Tuhan menurut agamanya masing-masing. Tuhan telah menciptakan dunia ini beserta sistim alam untuk dipahami dan dipatuhi. Manusia hendaknya tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hukum yang lebih tinggi dari sistim buatannya sendiri dalam bentuk kemajuan ekonomi, kehebatan teknologi industri dan kekuatan senjatanya yang suatu saat akan jatuh dan malahan akan runtuh oleh kekuasaan supernatural dan natural.  
      
      Dunia manusia adalah sebagai bawahan saja terhadap kekuasaan natural dan supernatural. dimana  kekuatan dan kekuasaan manusiawi ini dalam bentuk organisasi-organisasi negara, agama, bisnis, sosial, dan politik untuk dijalankan secara bijak, bersih, adil dan merata. Jadi menurut hukum biologis bahwa alunan dan fluktuasi adalah justru suatu Kepastian (Certainty)” dalam pengertian pasti ada saat naik dan pasti ada saat turun untuk dinikmati dan diantispasi dalam bentuk pencegahan atau tidak melanggar aturan alam serta memperbaiki sesuai analisa SWOT dan TOWS dari kondisi ekonomi – bisnis (external) dan kondisi perusahaannya sendiri (internal) dan selalu mengikuti alunan bioritmik alamiah, sehingga akan selalu terhindar dari krisis dan bencana (preventive ways) dan bukan lagi problem solving setelah terjadi krisis dan bencana yang pasti telah menimbulkan dampak risiko dengan kerugian yang sangat besar.